PolitikTerbaru

Hadapi Pilpres, Akmal Ajak Generasi Muda Dalami Ilmu Agama Agar Tidak Mudah Terkotak-Kotakkan Karena Isu Agama

radiokancanta.com – Pemilihan Umum 2019 sudah di depan mata. Pelaksanaan pemilu kali ini mengalami perubahan dari yang sebelum-sebelumnya. Di mana, selain memilih calon legislatif, pemilu kali ini juga diramaikan dengan kontestasi pemilihan presiden yang dilaksanakan secara bersamaan. Hal ini tentu menambah ketat persaingan antar kontestan yang dalam usahanya mendapatkan simpati masyarakat akan menggunakan berbagai macam trik dengan melempar sejumlah isu yang dipandang dapat menaikkan elektabilitas masing-masing kandidat.

Dalam acara kopi darat lintas tokoh pemuda Lombok Timur yang digagas Lembaga Avicenna Institute yang menghadirkan sejumlah politisi muda Lombok Timur di Lesehan Rindang Rasa, Majidi Kecamatan Selong pada Rabu (30/1) yang mengangkat tema “Depolitisasi Agama: Mewaspadai Polarisasi Pemilih Pilpres 2019”. Seorang politisi muda, Akamludin Sya’bani mengemukakan bahwa isu agama merupakan hal yang paling berbahaya untuk dimainkan. Karena akan bisa memecah belah anak bangsa.

Menurutnya, isu agama berbeda dengan isu-isu lainnya, seperti korupsi, impor pangan, kenaikan dollar dan lain sebagainya yang dampaknya hanya menimbulkan ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah. Sementara, jika isu agama yang dimainkan, akan mudah mengkotak-kotakkan masyarakat dengan permusuhan yang berlarut-larut.

Menyadari hal itu, untuk melawan isu-isu agama ini, masyarakat atau khususnya kalangan muda yang kerap mudah terpengaruh, harus memperbanyak pemahaman agamanya. Terutama, yang berkaitan dengan hubungan agama dengan negara. Selain itu, diperlukannya kembali pemahaman dan penghayatan yang mendalam terhadap UUD 1945 dan Pancasila yang tidak hanya dijadikan sebagai simbol negara. Namun, dijadikan sebagai landasan dalam bersikap dan bertindak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut diingatkan Akmal, generasi muda hendaknya harus mulai belajar dan menanamkan politik berkarakter, berintelektual serta berperadaban, bukan sekedar politik ikut-ikutan yang kemudian tidak mampu menyaring informasi-informasi hoax dan mudah termakan oleh isu-isu politisasi agama. (kis)

Show More

Related Articles

Berikan komentar anda

Back to top button
Close
Close
%d blogger menyukai ini: